Minggu, 24 Januari 2010

"Kontroversi"

“Kontroversi”
[Adam dan Malaikat Vs Iblis]
• Pe’eL (Penatap_Langit)


“Kau terlalu ikut campur!!” Kata Malaikat itu menghardiknya.
“Aku harus ikut campur, karna menyangkut nama baik ku!!” Iblis sedikit ngotot.
“Hahaha!! Nama baik, kau kira kau siapa!! Kau adalah Iblis yang telah di laknat Tuhan!! tidak kah kau mengerti!!” Malaikat ikut emosi.

“Aku memang Iblis tapi aku bukan salah satu yang dilaknat Tuhan,oleh karna itu aku harus memperbaiki citra ku!! aku tak perduli perbuatan jahat yang telah di lakukan oleh nenek moyang ku, tapi perlu kau ketahui, aku adalah Iblis yang berbeda!!” Iblis pun ngotot dengan argumentnya.

“Kau aneh Iblis!! apa yang membuatmu percaya diri mengatakan Kau adalah Iblis yang berbeda? apa dalil mu!!” Malaikat kini menantangnya.

“Wahai saudaraku!! kita telah tumbuh bersama-sama, aku ada di dunia itu kau pun ada, sudah berapa keturunan Adam yang sudah kita lewati, pernah satu titik pun aku melakukan kesalahan atau menjerumuskan Manusia kedalam dosa ? Pernahkah kau lihat aku yang melakukannya ?” Kini Iblis pun tak mau kalah.

“Hahaha!! Tak pernah melakukan salah katamu!! dengar Iblis!! yang pertama aku bukan saudaramu!! dan yang kedua ada beberapa kesalahan yang sudah kau perbuat!! mau tau kau dimana salah mu!! Malaikat mulai membuka buku catatan kesalahan manusia.

“Kau benar-benar sombong wahai saudaraku!! Tau kah kau, aku adalah salah satu keturunan Gollivert, sama sepertimu, Ayah dan Ibu ku adalah salah satu penjaga Sorga kesayangan Tuhan, tapi karna kesalahan Ayah ku yang bersengkongkol dengan Iblis Golldam kami semua terusir dari Sorga itu, dan perlu kau ketahui lagi, apa kah perlu menghakimi semua mahluk karna kesalahan satu mahluk ? Iblis sedikit sedih akan kejadian itu.

“Aku bukan Saudaraamu!! catat itu!! aku tak perduli dengan kejadian itu!! Iblis tetaplah Iblis, angkuh dan sombong itulah sifatnya!!” Malaikat bersih keras menentang keturunan itu.

“Baiklah wahai saudaraku!! jika itu memang mau mu!! sekarang tunjukan padaku apa saja kesalahanku yang pernah ku perbuat..?” Iblis sedikit merendah diri.

“Ok!! coba kita lihat!! kau ingat keturunan Adam yang bernama Daud!! Dia pernah melakukan Zina dengan anak keturunannya sendiri, apakah kau ingat Dia!! Kaulah yang membisikan ditelinganya ketika Dia mabuk anggur, apa komentarmu sebelum aku menunjukkan kesalahmu yang lainnya!!” Malaikat menuggu jawaban dari Iblis.

“Baiklah!! masalah Daud bukanlah kesalahan ku!! aku tak melakukan apa-apa kepadanya, bukankah engkau tau Dia salah satu manusia yang bijaksana, dan bukankah engkau juga tau, Kau ada di sana menyaksikan Dia melakukan Itu dan aku tak melakukan apa-apa kepadanya. Dia sendiri yang melakukannya, Dia berfikir sendiri dan aku tak melakukan apa-apa kepadanya, kau jangan menyakalnya!! aku berada disisi kirinya dan kau tepat berada disisi kananya!!” Iblis mengutarakan argument pembelaannya. Malaikat berdiam sejenak menyadari kejadian itu, lalu melanjutkan kembali membaca buku catatan sesalahan manuisa itu.

“Ok!! Bagaimana dengan keturunan Adam yang bernama Spitmata, Dia pernah membunuh salah satu keturunannya, dan kau adalah palima perang yang di tugaskan menggodanya. Apa argumentmu sekarang!!” Malaikat melirik dengan mata yang sinis.

“Spitmata memang pernah membunuh keturunannya,tapi tindakkannya adalah benar adanya!! Pada saat itu keturunanya yang bernama Fakriat melakukan dosa besar!! Fakriat membawa penyakit mencintai sesama jenis, bila tidak dimusnahkan penyakit itu akan menular kepada siapa pun!! aku heran kenapa kau tanyakan itu!! bukankah engkau juga palima perang saat itu yang melakukan tugas bersama ku!! Kau ada disana kan!! Jadi aku pasti tau benar kejadian itu!!” Iblis kembali mencoreng muka Malaikat itu. Malaikat kembali terdiam.

“Bagimana dengan Isa, buku catatanku mengatakan bahwa kau dan para pasukanmu merencanakan konspirasi terhadap Isa, Kau dan para pasukan mu membisikan kejahatan di telingga kaum Yahudi untuk menangkap Isa!!, kau takan bisa berkelit lagi wahai Iblis!!” Malaikat kini perapi-api.

“Isa, juga adalah salah satu manusia bijak, aku akan cuci tangan seperti halnya Raja Herodes yang merasa tak bertanggung jawab akan meyalipan Isa. Aku tak melakukan konspirasi itu. Sebagai Panglima perang aku tak punya wewenang untuk melakukan itu, tugas itu diberikan kepada Jendral Iblis Godfather. Aku hanya menyaksikan dari jauh kejadian itu, hei.. bukan kah ada engkau disamping ku.!! Aku yang mendorongmu ketika Isa kau tarik keatas langit!! ya, aku ingat sekali kejadian itu!!” Sang Iblis tersenyum. Malaikat merasa malu. 

“Sudahlah teman!! sudah ku bilang,kita tumbuh dan besar bersama-sama, kita melakukan tugas bersama-sama, apa lagi yang kau pikirkan!! aku tak sejahat yang kau bayangkan!! memang aku tak jahat!! aku mengikuti sifat Ibuku yang juga malaikat seperti mu, kau tau itu kan ? tak pernah ada titik pun aku pernah melakukan salah, makanya aku dibuang ke lembah hina ini, aku menentang pola nenek butut ku yang terus merasuki alam pikiran manusia, ayo sadarlah!! aku adalah saudaramu kawan!!” Iblis menyatakan fakta siapa dirinya yang sebenarnya. 

Malaikat pusing bukan kepalang, tak ada lagi alasan untuk menyangkal semuanya, Dia tau siapa sosok Iblis yang satu ini, tubuh dan berkembang bersama-sama bukalah isapan jempol saja, Dia benar, selama ini Iblis itu tak pernah melakukan salah. Malaikat mulai bingung apa yang harus dia perbuat. Ingin berteman tak kan pernah bisa, status sosial mereka berbeda. Baginya Iblis tetaplah Iblis yang menyesatkan jiwa manusia. Dan itu sudah di takdir kan Tuhan sebagaimana mestinya.

Malaikat berputar-putar terus berfikir bagaimana cara menyudutkan Iblis tersebut. Dia tak boleh menyerah begitu saja. Namun didalam hatinya, sebenarnya Dia sedih dengan nasib sang Iblis. Terkurung selama-lamanya karna membangkang kepada keturunannya. Ya, Iblis yang satu ini benar-benar berbeda. Dia lebih memilih dikurung dialam Dogdam selama-lamanya dari pada menyesatkan manusia untuk melakukan dosa. 

“Hei, apa yang kalian bicarakan ? sepertinya menarik telingaku” Tiba-tiba Adam sudah di antara mereka. 

“Terpujilah engkau wahai mahluk yang diMuliakan oleh Tuhan!!” bersama-sama Iblis dan Malaikat mengucapkannya.

Adam tersenyum mendengar pengakuan dari sang Iblis. Tak menyangka Iblis itu mengucapkan kalimat yang dianggap terlarang bagi kaum keturunannya. Bukan hanya Adam, tapi juga Malaikat yang kaget bukan kepalang.

“Apa yang engkau lakukan disini wahai mahluk yang di Muliakan oleh Tuhan” Iblis bertanya kepada Adam sambil mencium tangan kanannya Adam. Malaikat dan Adam terperangai oleh tingkah laku sang Iblis ini. 

“Aku hanya berjalan-jalan saja, tapi ketika aku mendengar percakapan kalian, aku merasa tertarik untuk menengahi semua ini” jawab Adam ramah tama.

“Ya, Adam sepertinya aku sangat butuh nasehatmu” kata Malaikat mendekati Adam. Bertiga kini mereka bercakap-cakap dengan ramah tama. Tak ada ke egoisan di antara mereka. Semua menerima dan mendengar kan pendapat dari masing-masing sebelah pihak. Inilah Sorga yang diinginkan oleh Tuhan selama ini. Kata Adam di dalam hati. 

Bertiga kini mereka. Ada Adam dengan kepintaran dan kebijaksanaannya, Malaikat dengan Kepatuhan dan Kepolosannya dan yang terakhir ada Iblis dengan segala pederitaan dan pengalamannya hidupnya. Sebuah keselarasan yang absolut. Seperti halnya para Yoga mengistilahkanya dengan kata keseimbangan antara Hati, Jiwa dan Pikiran. 

“Jadi apa rencanamu wahai Iblis” kata Adam sambil tersenyum.
“Tak banyak yang ku inginkan wahai Adam, biarkan aku menjadi salah satu keturunanmu, agar aku tau seberapa besar nikmat yang Tuhan berikan kepada ku” jawab Iblis dengan merendahkan diri.

“Tidak Iblis!! itu terlalu beresiko!! bagaimana jika Tuhan Tau rencanamu, bukan cuma kamu yang bahaya, tapi seluruh alam akan binasa, begitu juga aku dan semua keturunan Adam” Malaikat menentang ide cemerlang itu.

“Tuhan tak kan tau wahai saudaraku, jika tak ada yang memberi taukanNya, setelah sampai kedunia aku akan menjadi manusia seperti halnya Adam ini. Apa yang kau pikirkan serlalu berlebihan” Iblis membujuk Malaikat.

“Memangnya bagaimana cara melakukan idemu itu wahai Iblis ?” Adam kembali bertanya kepada Iblis.

“Tak kan sulit jika kalian membantu saudaramu yang lemah tak berdaya ini, aku cuma ingin dibukakan pintu antar dunia kita dengan Manusia selama satu detik saja. Selanjutnya aku yang tanggung semua resikonya sampai disana” Iblis mengutarakan rencananya.

“Tidak Iblis!! itu yang ku sebut terlalu beresiko!! kau tau sendiri ada 14 ribu pasukan Malaikat yang menjaga pintu itu. dan parahnya lagi., jika pintu itu di buka entah ada berapa mahluk dari keturunan nenek moyangmu yang akan tau bahwa pintu itu terdekteksi oleh mereka. Bukan kah engkau tau sudah berjuta-juta tahun keturunan nenek moyangmu mencari pintu itu untuk menyerang Sorga” Malaikat dengan bergetar menjelaskan ketakutannya.

“Jadi apa saranmu wahai Adam?” Kini Iblis menunggu saran dari Adam. 

“Hmm, sepertinya ada benarnya juga kata Malaikat itu. tapi apa kah kamu yakin dalam satu detik bisa menerobos lorong waktu itu ?” kembali Adam bertanya kepada Iblis.

“Ya, aku yakin bisa Adam!! bagaimana pun juga aku adalah kerutunan dua zat, Api dan Cahaya. Jadi jangan kan satu detik, seper-sekon saja aku bisa menghilang dengan cepat” Iblis meyakinkan mereka berdua.

“Tidak!! aku tak setuju!! terlalu beresiko, belum lagi jika Tuhan tau bahwa pintu yang ku jaga ini terbuka begitu saja, apa yang harus aku katakan kepada Tuhan” Malaikat masih dengan ketakutannya. 

“Kau tak perlu khawatir wahai mahluk yang setia kepada Tuhan, aku akan tanggung semuanya kalo pun benar Tuhan mengetahui kejadian itu, ingat segala yang terjadi dialam ini hanya Dia lah yang mengatur semuanya. Kita adalah mahluk yang lemah” Adam sedikit membuka pemikiran kepada Malaikat. 

“Ya, aku tau jika rencana ini berhasil semua juga karna Tuhan merestui aku ke dalam Dunia. Semua mungkin takdir Tuhan” Iblis mengimpali argument Adam.
Malaikat bertambah bingung., apa yang harus dia lakukan. Ini adalah konspirasi yang sebenarnya. Dimana tiga mahluk ciptaan Tuhan akan sedikit memberikan kejutan kepadaNya. 

Lama Malaikat mundar-mandir di hadapan mereka, Adam dan Iblis membiarkan Malaikat berfikir. Bagaimana pun juga mereka menghormati tugas dari Malaikat sebagai penjaga pintu antar dimensi itu. Malaikat benar-benar takut,terutama kepada Tuhan. Tapi disudut lainya. Malaikat tak bisa berbuat apa-apa. Karna ada Adam sebagai mahluk yang sangat dimulia kan oleh Tuhan. 

“Wahai saudaraku, tak perlu takut, sebagaimana sepengetahuanku, keturunan nenek moyang ku tak akan tau pintu itu berada dimana, karna hanya satu detik kita buka, maksimal mereka bisa mendekteksinya adalah satu menit. Dan aku tak kan mengecewakan engkau. Percayalah padaku” Iblis memohon.
“Ya, benar wahai mahluk kepercayaan Tuhan!! rencana ini akan berhasil, kita harus menolong Iblis yang lemah ini, bagaimana pun juga misinya kedunia benar-benar Mulia” Adam mengimpalinya.

“Baiklah wahai Adam, aku akan turut serta dalam rencana ini. Kapan kita melaksanankannya” jawab Malaikat pasrah.

“Malam ini, sebelum matahari muncul diufuk barat” jawab Iblis spontan.

“Ok!! semakin cepat semakin baik” Adam berkata.

“Bila semua setuju, kita sederhanakan saja rencana ini” Iblis menerangkan segala detail rencananya kepada Adam dan Malaikat.

***

Terdapat 14 ribu pasukan Malaikat berjajar mulai dari perbatasan sampai ke pintu utama ruang dimensi itu. Lenggang dengan santai Adam dan Malaikat berjalan menyusuri tiap-tiap pasukan itu. Rencana ini telah mereka susun dengan matang. Dengan kecerdasan yang Adam miliki, Iblis yang tadinya berwujud materi kini berubah non materi merasuki pikiran Adam. Ya, dengan cara itu tak ada pasukan yang mengetahui jika diantara mereka ada mahluk yang bernama Iblis menyertai Adam dan Malaikat. Sedangkan Malaikat itu sendiri adalah Palima tertinggi yang memimpin 14 ribu pasukan itu, jadi rencana itu seratus persen akan berjalan sebagaimana yang mereka rencanakan. 

Kini tiba lah mereka bertiga tepat di depan ruang dimensi itu. Mereka semua sekarang sibuk dengan tugas masing-masing. Malaikat membuka system oprasi pintu itu dengan kode pengaman yang hanya dia yang tau, sedangkan pintu itu hanya bisa dibuka oleh manusia pertama yaitu Adam. Iblis hanya melakukan peregangan otot untuk mempersiapkan terbang sekencang-kencangnya jika nanti pintu itu telah terbuka. 

“Apakah kau siap wahai Iblis?” Adam bertanya kepada Iblis.

“Ya.., aku siap kapan pun wahai Adam” jawab Iblis dengan tersenyum.

“Baiklah, pintu ini akan terbuka dengan hitungan ketiga, waktu kita tak lama, jadi kau harus cepat” Adam meyakinkan Iblis kembali.

Malaikat pun cemas bukan main. Wajahnya setengah pucat dengan nafas tak beraturan. Hitungan akan segera dimulai. Seperti roket yang akan di terbangkan ke langit, semua harus ikuti prosedur jika tak mau rencana ini gagal. 

“Satu, dua, tigaaaa!!! Go Iblis Go!!!!!!” Adam berteriak kepada Iblis. 

Pintu itu berduka dengan cepat. Sinar terang yang berasal dari balik pintu itu menyilaukan mata Adam. Malaikat hanya menyaksikannya dari jauh. Dia tak berani mendekat, bisa-bisa dia juga terseret ke dunia antar galaxi itu. Dengan sekejap mata, kini Iblis telah memasuki pusaran hitam itu. Dan rencana mereka berhasil dengan sempurna. Adam tersenyum puas, sedangkan Malaikat masih cemas dengan apa yang akan terjadi nanti. 

***

Adam kini berjalan menyusuri taman Firdaus sendirian, pemandangan disana tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ada sungai-sungai yang mengalir jernih, pohon-pohon bernyanyi dengan merdu, juga banyak bidadari yang terbang kesana kemari melakukan tugas masing-masing. Menyusuri jalan-jalan setapak yang dikelilingi batu-batu permata kini Adam berjalan menuju kediaman Tuhan. 

Pintu itu terbuka dengan sendirinya. Cahaya putih menyinari seluruh tubuh adam. Itu bukan sekedar Ruangan yang besar. Tapi seperti Dunia di dalam Dunia. Tak ada apa-apa disana kecuali cahaya putih yang berasal dari mana-mana. Seperti dunia non materi semuanya serba putih bersih. Adam berlutut tepat menghadap arah Barat dengan wajah tak berani menatap cahaya itu. 

“Ya Allah, tidak ada Tuhan kecuali Engkau, hamba Mu ini hanya sebuah titik yang tak bermakna. Hanyalah Engkau yang Maha Besar dari segala kebesaran yang ada di Alam ini. Perintah Mu sudah hamba jalan kan dengan baik, hamba minta petunjuk Mu kembali, ampuni hamba Mu ini ya Allah” Adam berkata kepada Zat yang tak bisa digambar kan dengan mahluk yang pernah di kenal di dunia. 

“Wahai mahluk yang Ku Muliakan, kau telah menjalankan perintah Ku dengan Baik, sekarang panggilkan saudaramu Isa, dia akan melaksanakan perintah Ku selanjutnya”. Suara itu berdengung sampai ke dalam hati Adam. Adam lalu bergegas melaksanakan perintah itu. 

***

Tanggal 6 bulan 6 tahun 6666 diperbatasan Laut Mati dan Laut Merah. Tepatnya dialiran sungai Efret sebuah bayi terkatung-katung yang setiap detiknya semakin membesar. Bermata satu, memiliki tanduk seperti Naga, tak berhidung, bermulut lebar dengan lidah yang menjulur panjang keluar. Tangannya berjumlah enam, kakinya juga berjumlah enam. Seperti binatang melata bersisik dengan aroma tubuh yang menyengat. 

Dengan perlahan mahluk itu mendekati pantai. Dia bisa berjalan diatas permukaan air. Juga sekali-kali terbang menyemburkan api. Rambutnya basah tetapi tak basah. Karna seperti tentakel pada cumi-cumi. Dua orang nelayan yang pada saat itu menyaksikan mahluk itu menginjaki pantai bertanya karna heran. 

“Wahai engkau mahluk aneh!! siapakah sebenarnya dirimu?” kata seorang nelayan bertanya sambil menjaga jarak antara dia dan mahluk itu.

“Aku adalah Da’Jal aku datang untuk mengakhiri semuanya” Mahluk itu bersuara dengan berat.

Kedua nelayan itu terperangai bukan main. Kejadian ini seperti ramalan didalam KitabNya. Nelayan tersebut berlari tunggal langgang di buatnya. Beberapa saat kemudian kejadian itu tersebar hingga keplosok dunia. Bukan hanya dunia manusia tapi juga dunia Iblis.

“Da’Jal telah datang!! Da’Jal telah datang!! Tak lama lagi Dunia ini akan kiamat, Bertobatlah!! Bertobatlah.!!”. Berteriak nelayan itu sambil berlari.

-End-

Dunia Fana,17Sep09
Iwan Steep
Pujangga Yang Tersesat

NB : Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan tokoh atau pun karakter yang bersangkutan, itu hanya kebetulan saja. Seperti mengikuti judulnya, semoga saja menjadi Kontroversi.
TengQuw..

"Ketimun Bongkok"


Pasar buah Kramat Jati pukul enam pagi
Hinggar bingar suara para pedagang memecah kebisuan di pagi ini. Gaduh dengan segala aktifitas mereka. Keringat kuli panggul menetes menambah beceknya jalan yang menjadi pemandangan sehari-hari untuk para pembeli. Beginilah suasana pasar tradisional sebagian besar yang ada di Negara ini. Tapi tak perlu khawatir, peredaran uang di sini jauh melebihi plaza-plaza yang ada di sebagian kota besar. Tho faktanya sebagian besar agen atau distributor semua berawal di pasar ini. Jadi jangan takut dengan kwalitas barang yang di tawarkan di sini. Semua di jamin 159 persen halal dan di halal kan. 

Di salah satu loss di ujung gang arah dari pintu masuk sebelah timur tak kalah gaduhnya. Buah-buahan tertata rapi, cantik dan menggiurkan dahaga. Mulai dari semangka, durian sampai angur atau apple ada di sini menambah warna-warni isi tiap kios para pedagang. Ingin cari pepaya atau sayur-sayuran segar ?? Tak perlu jauh-jauh tinggal melangkah satu hasta, semuanya ada di sini. Tapi suasana riang gembira pembeli atau penjual ternoda dengan keluh kesah dari sesosok mahluk kerdil ini. Mukanya muram durja dengan ekspresi tak bersahabat. Semua teman-teman telah letih memberikan masukan kepadanya, tapi tetap tak digubrisnya. Entah sudah berapa jam Dia mengguman dan memaki pembeli yang tak mau membawanya pulang. Baginya Dia hanya mahluk cacat yang yang tak berguna. Tho akhirnya juga akan terbuang seperti hal layaknya para keturunannya. 

“Sialan!!” Upatnya lagi
 Perasaan kesalnya semakin menjadi-jadi, mana kalah sekarung mentimun baru saja tiba dan akan segara bergabung dengan dirinya. Bau mereka masih segar karna baru beberapa jam yang lalu di petik dari sebuah ladang di perbatasan kota. Muka ketimun semakin merah karna marah. Teman-teman yang baru datang ini tak berani menegurnya. Dengan sisa-sisa tenaga yang di milikinya, ketimun menjatuhkan diri dari rak pajangan dan segera bercampur dengan hitamnya tanah yang becek. 

“Hei ketimun!! apa yang kau lakukan!! tubuhmu jadi kotor tau!! dasar bodoh!!” Buah Melon mencibirnya.

“Aku ingin bunuh diri saja!! aku tak sanggup lagi tinggal di dunia ini!! aku tak mau mati busuk dengan ulat-ulat yang mengerayangi tubuh ku!” Ketimun semakin membenamkan dirinya kedalam kubangan lumpur itu. 

Hy ketimun!! kau kira cuma diri mu saja yang punya masalah dengan kebusukan!! kau baru beberapa hari disini, kau lihat aku!! aku sudah hampir tiga minggu di sini, asal kau tau saja, ulat-ulat sekarang sudah bersarang ditubuh ku, tapi sampai sekarang aku tak pernah mengeluh, karna itu sudah menjadi takdir kita sebagai mahluk yang belum beruntung” Buah Durian tampak esmosi. 

“Hei kau Durian!! tau apa kau soal keberuntungan!! aku memang baru beberapa hari di sini! tapi setidaknya kau tak cacat seperti aku., meskipun kau busuk, tapi wangi mu masih tercium semerbak, sedangkan aku, cacat dan sebentar lagi membusuk, mana ada orang yang mau membeli ku” Ketimun ikut esmosi. 

“Dasar kau Ketimun yang aneh!! tak bisa menerima takdir dari yang Maha Pemberi Kehidupan!!” Durian memakinya. 

“Kaulah yang aneh!! dasar Durian bodoh!! mau saja menelan mentah-mentah kata takdir tanpa mau mencari maknanya apa!! bagi ku takdir hanyalah kebohongan dari para orang-orang tua kita dulu yang menancapkan dogma dipikiran keturunannya. Kata takdir tercetus ketika mahluk itu tak mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan hatinya. Mengerti kamu!! Ketimun mengutarakan argumentnya. 

“Jadi maumu apa sekarang Ketimun bungkuk!!” suara dari atas langit ikut menengahi mereka. Suara itu berasal dari sesosok Burung Sorga yang sejak tadi mendengarkan celoteh sang ketimun dari atas kabel gardu listrik.
Ketimun terdiam sejenak, dia benar-benar tak menyadari bahwa sang Burung Sorga ada ditengah-tengah mereka. Otaknya berputar-putar lalu dengan lantang menantang Burung Sorga itu. 

“Aku ingin kau sampai kan kepada Sang Yang Maha Pemberi Kehidupan, bilang padaNya, Aku dan keturunan ku tak ingin menjadi ketimun yang cacat!! Mata ketimun penuh semangat.

“Jadi kamu mau jadi apa!!” Burung Sorga balik bertanya.
“Terserahlah yang penting aku tak mau menjadi Ketimun Bungkuk yang cacat dan tak berguna bagi manusia!!” Wajah ketimun semerah api.

“Kau benar-benar aneh Ketimun!! Kenapa!! kau tak temukan bentuk yang pas untuk memperkuat alibi mu ya ?, atau jangan-jangan kau tak pernah tau siapa dirimu sebenarnya?” Buah jeruk mengimpali dan membuat ketimun malu. 

“Apa kau bilang jeruk sialan!!” Ketimun memaki sang Jeruk lalu melanjutkan kembali dengan sisa-sisa tenaganya. “Kau bisa bilang begitu karna kau terasa manis dan cantik!! kalian disini tak kan bisa mengerti aku!! dan kalian tak pernah perduli dengan nasib ku atau keturunan ku. Kalian bisa mengatakan itu karna kalian tak senasib dengan diriku. Saos tartar kalian semua!!” Ketimun tak bisa lagi mengontrol emosinya. 

“Hei kau Burung Sorga, sampaikan saja pesanku kepada Sang Pemberi Kehidupan bahwa aku ingin menjadi mentimun yang normal, tak ada cacat di punggung ku. bisakah kau lakukan itu untuk ku ?” Ketimun menantang lagi Burung Sorga itu.

“Baiklah Ketimun Bungkuk, kalo cuma itu keinginanmu, tak usah capek-capek aku terbang ke langit. Sekarang saja aku bisa mengabulkan permintaan mu, sekarang bersiaplah” Burung Sorga tersenyum kepada Ketimun.

Semua buah yang ada disana terkejut bukan kepalang, bagi mereka Ketimun ini benar-benar sudah gila akan ambisinya. Mana ada mahluk yang bisa merubah kodratnya hanya dalam hitungan detik. Tapi mereka semua tak menyadari bahwa sesungguhnya Burung Sorga itu ternyata Zat Yang Maha Pemberi Kehidupan yang menyamar sabagai Burung tersebut. Begitu mereka tau, semua bersujud dan memuliakan NamaNYa.

“Sekarang apa kah kau sudah merasa puas Ketimun Bungkuk?” Zat Yang Maha Pemberi Kehidupan berkata kepada Ketimun.

“Ya, Aku sudah merasa puas wahai Zat Yang Maha Pemberi Kehidupan, terima Kasih” Ketimun menjawab sumringah.

Kini Ketimun bangga bukan kepalang, wajahnya tampan dengan bau yang segar pula. Dia yakin akan mudah terjual dengan penampilannya yang sekarang ini. Saking girangnya Ketimun berjalan dengan angkuhnya mengitari meja-meja pajangan itu dengan menginjak-injak buah-buah yang ada disana. 

“Lihat aku sekarang!! Apa kah kalian disini iri padaku!! wajah ku tampan, bauku segar, dan satu lagi kalian tak kan pernah bisa seperti aku yang berhasil merubah takdir ku sendiri!! Hahahahak!!” Ketimun tertawa dengan kerasnya dengan kedua tangan menempel di pinggang.

Memang tak dapat di pungkiri, semua buah yang ada disana iri melihat ketimun yang dulu cacat sekarang telah berubah menjadi mahluk yang tampan dan rupawan. Semua buah yang ada disana sebenarnya ingin juga seperti Ketimun Bunguk tapi malu, malu untuk mengutarakannya kepada Zat Yang Maha Pemberi Kehidupan. Terlebih lagi kepada Ketimun yang dulu pernah mereka ejek dengan argument mereka. 

Untuk sesaat kemudian kabar berita bahwa Ketimun telah berubah menjadi gagah dan rupawan telah tersebar hingga ke pelosok-pelosok loss kios pedagang. Sumpah!! mereka semua iri kepada ketimun yang berani melawan takdirnya. Bagi mereka Ketimun adalah tonggak sejarah bagi dunia buah-buahan yang telah berani melawan takdirnya sendiri. Ketimun Bungkuk mendapat gelar “Sang Penembus Batas” entah apa artinya itu. Aku pun tak mengerti arti makna kata itu. Tapi aku cukup puas melihat expresi mereka yang tak bisa seperti Ketimun Bungkuk. Dan seperti yang Ketimun katakan “Kau tak kan bisa pahami perasanku sebelum kau merasakan seperti aku rasakan!! dan mereka telah rasakan, bagaimana rasanya tak bisa menjadi sempurna seperti ketimun” hanya itu yang ada dipikiran ku saat ini. Dan mulai detik itu, tak ada lagi yang bisa mereka panggil dengan sebutan Ketimun Bungkuk, sampai sekarang nama Ketimun telah berubah menjadi “Si Segar Mentimun Sang Penembus Batas”. Nama yang panjang dan aneh..

Cerita legenda itu terus terdengar turun-temurun dari mulut kemulut hingga sampai sekarang. Aku pun terkejut bukan kepalang setelah mendengar cerita itu dari nenek ku tadi pagi. Beliau bilang tak banyak lagi yang tau cerita itu, karna memang kejadiannya telah berlalu beratus-ratus tahun yang lalu. Dan aku pun berniat untuk membukukannya. Ku pikir dari pada cerita itu hilang ditelan bumi, alangkah berharganya jika cerita itu tetap abadi. Ya, hitung-hitung melakukan sesuatu yang berharga disisa hidup ku ini. Aku yakin bukan cuma aku yang bisa mendapatkan motifasi untuk bertahan hidup di dunia ini. Tapi dengan adanya buku itu sendiri akan ada banyak orang-orang seperti aku atau mungkin orang-orang seperti Ketimun Bungkuk sewaktu sebelum perubahannya akan merasa optimis dalam menjalani hidup di dunia ini, terlebih lagi dengan kecacatan fisik atau mental yang mereka derita. Semoga saja.

****

“Ayo Nek!! ceritakan lagi bagaimana kelanjutan kisah Ketimun Bunguk setelah perubahannya ?” Aku merayu Nenekku sambil memegang pena diujung jari kaki ku. 

Ya, asal kau tau saja, sejak lahir aku seperti Ketimun Bungkuk yang tak sempurna. Aku terlahir dengan kecacatan fisik yang ku derita. Ya, aku tak memiliki kedua tangan sebagaimana orang-orang normal. Tapi aku masih bersukur masih diberikan Tuhan dua buah kaki yang dapat ku gerakan sebagaimana ku inginkan. Makan, berjalan, sampai menulis semua ku lakukan dengan kedua kaki ku ini. 

Mungkin aku tak seberuntung Ketimun Bungkuk yang begitu mudahnya bertemu dengan Tuhan dan dalam sekejap kecacatannya hilang begitu saja. Tapi dapat aku petik hikmahnya, bahwa kecacatan membuat orang bisa hidup dengan kreatif lagi. Itulah manusia, mahluk yang bisa beradaptasi dengan baik. Baik dengan lingkungan sekitar atau pun dengan anggota tubuhnya sendiri. Bagaimana pun juga kita hidup bukan mencari orang yang sempurna, tapi belajar bagaimana mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna. Dengan begitu kita bisa tau bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak sempurna. Bukan begitu

“Baiklah cucu ku, Nenek akan lanjukan ceritanya” Jawab sang nenek sambil melepas kaca matanya lalu duduk tepat di sebelah ranjang ku.

Aku dengan sigap mendengarkan kelanjutan cerita itu sambil mengunyah mentimun yang baru saja aku ambil dari dalam lemari es. Berharap semakin banyak aku makan Mentimun, semakin cepat pula tangan ku segera tumbuh. Hahahak!! Aku tertawa didalam hati. Aku tau Itu hanya hayalan ku saja. Benar-benar imajinsi yang aneh. Hahahaha…


Dunia 4x6 meter,
090909-
Iwan Steep

"Filosofi Hitam"


Jauh sebelum zaman berkembang, atau tepatnya pada tahun 558 SM, ada seorang filusuf dari Persia yang juga pernah belajar bersama seorang guru besar bernama Phytagoras, pernah mengemukaan pendapatnya, bahwa “Hitam itu bukanlah warna melainkan Suasana”. Mengapa demikain..?
“Karna hitam itu adalah keadaan yang pekat, buta dan tak berwarna, ketika hitam datang maka tak ada warna lain yang dapat mendekatinya kecuali cahaya, dan cahaya yang dihasilkan juga bukanlah hasil dari sebuah proses melainkan pencerminan kontras dari hitam itu sendiri. Jadi hitam itu bukanlah warna melainkan suasana. 

“Zarathustra”

Wew, maksudnya apa ya ?? Memang agak membingungkan, tapi jika kita mau sedikit membuka diri saya yakin akan memahami makna yang terkandung di dalam gubahan tersebut. 

Menurut Teori mungkin begini maksud beliau, pejamkan lah mata mu selama satu menit, lalu dibantu kedua tanganmu untuk menutupi rapat kedua mata mu, apa yang kamu lihat ? 

“Hitam,gelap, tapi lama-lama seperti ada cahaya yang dihasilkan dari kontras hitam itu sendiri”. Masih tak percaya, sekarang tanyakan saja kepada orang yang buta, dan jawabannya pasti sama Hitam itu bukanlah warna melainkan suasana.

Akan tetapi jika menurut seorang filusuf akan berbeda lagi, “Keadaan dimana kita tak mengerti tentang sesuatu hal atau dengan kata lain hitam melambangkan sebuah kesalahan maka kesalahan yang membawa kita menuju kebenaran”. Wah, makin membingungkan ya ? Oke deh mungkin sebaiknya aku sederhankan saja semuanya, agar kita bisa di memahaminya, tapi kalo salah jangan marah ya ? Hahahahakkk…

Jadi begini, yang dimaksud beliau akan sebuah kesalahan yang membawa kita menuju titik terang Yaitu “Takdir itu sendiri, yang datang dengan perlahan-lahan menghampiri hidup kita, karena pencerminan apa yang kita lakukan saat ini untuk masa depan”. Maka terbukti apa yang beliau katakan “ketika hitam datang maka tak ada warna lain yang dapat mendekatinya kecuali cahaya, dan cahaya yang dihasilkan juga bukanlah hasil dari sebuah proses melainkan pencerminan kontras dari hitam itu sendiri. Jadi hitam itu bukanlah warna melainkan suasana. 

Mungkin kurang lebih begitu teman. Salah dan benar semuanya Relatif., untuk itu jika ada salah-salah kata, saya mohon maaf, Lho!! Neh prosa atau surat untuk parsel Lebaran seh, kok isinya maaf-maaf’an Hahahhaakkkk……!!
Jadi, mulai sekarang jangan pernah lagi menyebut hitam itu warna, sebab “Hitam itu bukanlah warna melainkan suasana”.

241209
Iwansteep

"Celoteh Burung Malam"


Rokok, rokok, rokok!! Suara itu semakin menjadi-jadi dari dalam otakku, kopi pahit, rokok filter, racikan yang pas!! aku berguman puas. Seperti kata mbah Surip, jika mau bruntung hidup di dunia ini, kurangi tidur banyakan ngopi dan nyandu. Jah!! benar-benar argument yang ngaco. (hahak.)

Malam itu semakin larut, tapi rasa ngantuk tak kunjung datang. Hampir 4 jam aku terpaku didepan layar komputerku. Tak tau mau menulis apa. Aku bingung. Kuping pake’ hearphone kepala angguk-angguk tak mau diam ikuti suara musik yang keluar. Bosan!! akhirnya aku keluar mencari udara segar. Rasa penat menghibur hati ku yang galau. Kembali asap putih itu meracuni paru-paru ku. Ingatan adegan film syiur yang baru ku tonton di dalam komputer ku tadi tambah membuat aku pusing. Ahhhkkk!!! Tambah kacaw saja aku ini. 

Aku duduk diblangkon teras rumahku, hari sudah pukul setengah satu malam. Jemu!! bosan!! sedikit aku menggerutu di dalam hati. Udara yang dingin mulai menggerayangi aku. Mau ambil jaket tapi malas kembali ke kamar. Aku kembali termenung seperti patung, tatapan tajam kedepan, pikiran melayang-layang entah kemana. Semakin lama aku termenung, semakin tak nyaman aku didisini. Aku merasakan ada yang mengintaiku sejak dari tadi. Celingak-celinguk aku menoleh kiri dan kanan, tapi tak ku temukan apa-apa. Pas ku toleh ke atas, ehh ternyata ada rembulan yang mengintai ku dari kisi-kisi awan yang pekat. Termagu aku menatapnya. Aku tersenyum pelan. Seperti orang gila, aku merasa dapat berkomunikasi dengannya. Aku ngakak, ternyata aku benar-benar sudah gila. (beuh)

Nyala api dari pemantik kembali mengahantarkan kepulan-kepulan asap yang keluar dari sebatang rokok ku yang terakhir itu. Ku hisap dengan perlahan dan begitu dalam hingga kepalaku agak pusing. Aku tak tau mengapa aku begitu nyandu dengan tembakau ini. Sampai-sampai pusing aku kalo’ persediaan ku ini habis. Tapi sudahlah bukan itu yang mau ku bahas. Yang terpenting sekarang bagaimana caranya keluar dari kepenatan yang sudah melanda diriku sejak satu minggu terakhir ini. Ya, sudah satu minggu ini aku uring-uringan di dalam kamar. Ibu dan semua saudara-saudaraku ku acuh kan saja. Entah apa aku muak lihat muka mereka atau aku telah kena syndrom kepenatan dalam rumah tangga. Jah, bahasa dari mana pula itu!!. pokoknya intinya aku muak lihat tingkah laku mereka titik!!. (aneh)

Bising aku dengar ada suara dari atas langit, suaranya mengganggu konsentrasi ku, aku benar-benar terganggu dengan suara itu, aku marah!! lalu dengan kesal aku ambil senapan angin berikut pelor’nya. Ku bidik lalu ku tembakan ke atas langit. Duusshhh!!. ada sesuatu yang jatuh dari atas sana. Sesuatu itu ter’kelepak-kelepak tak berdaya dengan berlumur darah. Aku puas!! ada rasa bangga dalam diriku. “Mampus kau burung setan!! siapa suruh teriak-teriak ditengah malam, bikin orang kesal saja!!” ku maki dirinya dengan sumpah serapah!! lalu ku tinggalkan dia dengan keadaan koma. (sadis)

Sekarang aku telah kembali ke dalam kamar. Masih di depan layar komputer, ku nikmati alunan musik rock melalui hearphone itu. Sesekali tangan ku lincah memainkan mouse membuka file-file terlarang tapi tak lama, ada sesuatu yang menggangu pikiran ku. Aku tak tau juga, yang pasti aku merasa aneh malam itu. Jika kau menebak perasaan bersalah karena aku telah membuhuh seekor burung malam, anda salah total. Aku tak pernah merasa menyesal melakukan apa pun, walau pun itu bentuknya penyiksaan kepada mahluk Tuhan. Aku tak pernah merasa menyesal, karna itu wajib di lakukan!!. wajahku tambah bringas.

Amarahku semakin menjadi-jadi, untung saja semua orang di rumah ini telah tertidur pulas, kalo’ tidak mungkin sudah ku bidik satu-satu seperti burung sialan itu. Aku semakin tak tenang.

Aku mundar-mandir di depan lemari pakaianku. Sedikit berkaca melihat postur tubuhku yang tak biasa. Mataku cekung, mukaku pucat, badanku kurus kerempeng seperti gembel tak terurus. Aku merasa bukan aku yang terlihat didalam cermin itu. Lalu ngoceh sendiri layaknya dua orang yang sedang berinteraksi. Entah apa aku sedang mabuk atau benar-benar sudah gila. Gubbrakkk!! Ku pecahkan cermin itu dengan tangan kananku lalu robohkan lemari pakaian itu dengan sekuat tenaga ku. Aku tak bisa lagi mengontrol amarahku. Meja komputer yang masih menyala ku angkat dan ku lemparkan ke kaca jendela hingga menghasilkan bunyi gaduh sampai kerumah tetangga. Aku marah!!, tapi tak tau marah kepada siapa!!. tetangga dan semua keluarga ku terjaga dan kini telah berkumpul didalam rumah. Mereka semua bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi kepadaku. Mereka ingin memaksa masuk dengan cara mendobrak dari pintu kamar yang sengaja aku kunci,tapi tak berhasil. Ada juga yang mencoba mengintip melalui jendela kamarku, tapi tak berani dekat-dekat karna aku sedang memegang senapan angin. Keadaan semakin kacaw.

Suara-suara dari keluargaku membujuk aku agar tak berbuat kegabah. Nasehat-nasehat mereka terdengar samar ditelinga ku. Aku masih mundar-mandir didalam kamar itu dengan senapan angin yang siap diletuskan. Aku berteriak menyuruh mereka semuanya diam!! otak ku kini berputar-putar, ada suara-suara aneh yang berasal dari kepalaku. Aku tambah pusing, seakan semuanya berputar-putar, lalu aku jatuh kelantai. Kedua tanganku mencengkram kepalaku, menarik-narik rambutku sehingga rontok sebagian. Ku hantukan kepalaku ke lantai beberapa kali untuk menghilangkan rasa sakit itu. lalu aku merasa ada air yang keluar deras sekali dari ubun-ubun ku. Ya, darah segar memuncrat seperti sperma yang keluar dari batang penis. Kepala ku berdarah, aku mulai pusing.. Lalu beberapa detik kemudian aku tak sadar lagi.
Aku benar-benar tak mengerti apa yang sedang terjadi, sehingga pas aku sadar aku telah berada di salah satu pohon besar di depan rumah ku dengan bekas luka tembakan tepat di dada sebelah kanan ku. Pagi itu waktu aku kembali kerumah semua tetanggaku berkumpul. Ada yang histeris sampai pingsan. “Bukankah kamu semalam bunuh diri, jadi siapa yang di rumah sakit itu!!”. Semua orang lari tunggang langgang melihat ku.
Ibuku memelukku dengan erat lalu membisikan sesuatu ke telingaku. Kata Beliau, semalam aku di larikan kerumah sakit, dengan infus dipergelangan tangan dan perban melingkar di kepala ku. Untuk beberapa saat aku dinyatakan koma lalu dokter memberi kabar bahwa aku telah meninggal dunia karna banyak kehabisan darah. Aku bengong dan kembali memeluknya erat.
***
06.30 WIB Suara telpon berdering..,
“Halo, keluarga Ibu Sukma, saya dokter Broto, saya hanya mau mengabarkan, bahwa Jenazah Niko telah hilang, dan anehnya berganti dengan bangkai seekor burung gagak, maaf saya tidak mengerti apa maksudnya. Tapi ini benar-benar nyata. Terima kasih”
Tut..tut..tut---

16Agust09
03.47WIB