Jumat, 06 Agustus 2010

"Jaka KIKIR"


Jaka..!!. Lelaki Tua berumur 56 tahunan.

Sekilas jika di pandang persis seperti kakek tua sukses yang sedang menikmati hidup. Duduk di ”garang” (teras) rumah Panggung besar dan panjang hasil warisan keluarga yang tak dapat di jual. Di jemari tangannya terselip setengah batang rokok kretek yang menurut perkiraan ku 8-9 hisap lagi akan habis. 
Tatapannya pasti menatap senja yang sebentar lagi akan turun. Jangan tanyakan pada ku apa yang ia sedang pikirkan. Mungkin dia sedang menggali memory2 masa-masa kejayaanya tempo dulu. Mungkin saja begitu, aku tak tau juga, Namun itu lah kini kebiasaan jaka, duduk manis di garang rumah nyambil menikmati sebatang rokok menunggu detik-detik alunan speaker dari salah satu masjid hingga bersahut-sahutan menandakan magrib telah tiba. Saatnya menghadap Tuhan Jaka..!!.

Namun itu nanti, masih ada paruh waktu 30 menit lagi untuk menggali siapa sebenarnya jaka, sebelum dia beranjak pergi ke belakang entah itu mengambil air wudu’ atau pun hanya cuci kaki lalu tidur. Hahaha, ya, tak salah jika salah satu teman ku memberanikan diri menemaninya mengabiskan senja bersama. Satu bungkus rokok kretek merk apa pun, itu sudah cukup untuk membuat mulutnya berkoar tentang masa lalunya. Tak banyak orang yang berani lakukan itu, hanya teman ku yang agak strees ini brani menerima tantangan itu. Sobri namanya.
****

Di kampung itu siapa yang tak kenal Jaka. Namanya langsung melejit bak selebritis ketika acara khitanan anak bungsunya harus dirayakan dengan pesta mengalahkan pesta pernikahan Nia Ramadani dengan salah satu putra keluarga Bakri. ”Wah.., malah ngelantur kesana”. Hehehe, Tapi ini benar kawan, aku tak bohong. Di masa itu tak ada yang royal seperti jaka. Kambing 20 ekor, Sapi 6 biji, 50 Ayam potong. Jaka benar2 hebat!!. Seluruh orang di kampung sampai kecamatan hanya menggeleng2kan kepala ketika mendengar berita kehebohan dari sang Jaka. Pokonya Jaka dempoe duoeloe T.O.P. B.G.T. deh..

Anda pasti heran dari mana Jaka bisa se-tajir itu. Jangan berspekulasi dulu sebelum aku bercerita banyak teman. Santai, mari kita nikmati secangkir Teh hangat temani aku bercerita tentang si Jaka. ”Silakan di cicipi ”Martabak” hasil buatan ku kemarin senja.

Awal mula Jaka hanya seorang buruh sopir angkutan antar daerah biasa. Namun dimata juragannya Jaka adalah sosok seorang yang spesial. Orangnya jujur, tak neco-neco. Berbudi pekerti baik dan santun kepada orang tua. Lho, ”Apakah Jaka juga gemar membuang sampah pada tempatnya?” gagagaga. hanya bercanda teman. Jangan terlalu serius membacanya. Lalu dengan sifat dan sikap seperti itu. Sang Juragan pun akhirnya tertarik menjodohkan Jaka dengan anak gadisnya. Berharap suatu saat nanti Jaka bisa meneruskan usaha yang telah di rintis sang Juragan dari sejak muda.

Tepat apa yang sudah diramalkan oleh sang juragan. Jaka telah berhasil meneruskan usaha dari sang mertua. Ketika sang mertua meninggal dunia. Jaka mendapatkan warisan satu buah mini bus antar daerah itu. Sisa warisannya harus di bagi rata dengan anak2 dari sang mertua. Berawal dari satu mini bus hingga beberapa tahun kemudian beranak pinak menjadi 5 mini bus dan 2 mobil pribadi. Salah satu mobil pribadinya pun dia rental kan ke pihak perusahaan perkebunan kelapa sawit. Apa kah itu masih belum cukup untuk mengambarkan kesukses’an Jaka?. Hmm, aku sudah tau permintaan mu teman. Jangan khawatir..

Tak hanya bergerak di bidang Angkutan Antar Daerah saja. Jaka juga memiliki usaha sampingan yaitu menyewakan tanahnya yang luasnya hampir 500 hektar untuk di garap petani menabur benih sawit dan pohon karet untuk di sadap 10-15 tahun yang akan datang, dengan membagian 30 : 70. ”Masih kurang..?”. Ada satu lagi usaha sampingan Jaka yang tak boleh di lewatkan. Ya.., 5 buah gedung berlantai 4 berisikan sarang burung walet. Aku rasa di zaman itu Jaka memang benar2 pantas di juluki ”To’ke dari segala jenis To’ke”. Gagagaga...

Tapi Jaka lupa peribahasa orang tua sewaktu itu. ”Semakin tinggi pohon berdiri,semakin kencang angin berhembus”. Jaka sedang menikmati masa2 punjak kejayaan-nya hingga lupa diri. Hoby-nya yang dulu hanya memancing dan memetik buah kelapa, kini berubah menjadi berjudi dan bermain wanita. Tak hanya satu kafe, mulai dari jarak 5kilo dari rumahnya sampai keplosok2 kampung dan kecamatan kenal Jaka si Raja Toe’ke. Akhinya apa yang di takutkan istrinya pun benar2 terjadi. Jaka kini mengidap sebuah filosofi baru,”Poligami.!!”. (Terlaluuu, betul tidak..?). ”Maaf bukan bermaksud mengingatkan anda kepada sosok seorang tokoh yang sering melantunkan kata-kata itu. Gagaggga.

Sang Istri juga bukan orang yang sembarangan. Dia adalah seorang yang berpendidikan, tak seperti jaka yang tamat SMP pun tidak. Setelah bentrok beberapa bulan, akhirnya pengadilan agama pun me-legal-kan perceraian mereka. Bagi istrinya Filosofi itu tak akan mudah hilang dari benak Jaka. Sekali Poligami akan tetap berpoligami. Karna kesalahan itu dianggapnya benar!. Dan istrinya tidak akan me’maaf-kan seseorang yang melakukan sebuah kesalahan yang dianggapnya benar!!. Sebuah pemikiran yang terperinci dari seorang yang berpendidikan!!. ”Dua jempol” buat mantan Istri Jaka yang pertama.

”Aku tak mau di madu, bukan harta yang aku cari yang aku butuhkan lelaki yang bertanggung jawab, setia dunia akhirat, titik!!”. Mungkin itu argument yang bisa kita dapatkan jika harus bertanya kepada mantan istri Jaka yang pertama. Hehehehe baru sebatas wacana bung.

Pelan namun pasti koleksi Jaka pun kian bertambah. Tak hanya mobil yang berjejer rapi di pekarangan rumah. Bini-nya pun kini ada 3, belum termasuk simpanan diBank. ehh.. salah.. maaf, Maksudnya simpanan ditempat lain yang tak di ketahui publik. Gagagaga.. Jaka, Jaka lagu mu sudah seperti Raja Minyak tanah saja. Haha

Namun kejayaan Jaka tak bertahan lama. Sedikit demi sedikit hartanya mulai terkuras. Judi dan bermain wanita adalah duet kolaborasi yang apik membuat dirinya hancur. Satu persatu aset berharganya pun hilang dari pelukannya.

Tanah, gedung, mobil, sampe ke dua bininya pun kini di sita pihak Bank. Lha, salah ding!!. kedua bini-nya nyang tu. sudah minta cerai sebelum pihak Bank datang. Wkwkwkk, Dan menyisahkan satu bini lagi yang masih mampu bertahan. Kita lihat saja nanti sebrapa lama dia mampu bertahan.
***

Mata jaka masih nanar menatap senja yang telah turun. Rokok di tangannya telah menyentuh garis pembatas. Dia ragu, apakah mau di sambung atau di sudahi saja sampai di situ. Teman ku terdiam. Dia mencari akal bagaimana cara memancing Jaka untuk bercerita kembali, sebab waktunya tak banyak. Tinggal 15 menit lagi sebelum Jaka menghadap Tuhan atau pergi tidur. Entahlah, hanya Jaka yang tau.

”Kek, sudah berapa lama kakek tak bertemu dengan anak kakek?”. Sobri bertanya dengan sangat hati-hati.

”Hmmmm”. Jaka hanya menghela nafas panjang. Sepertinya Jaka merasa berat untuk menjawabnya. Lama, baru sekitar 10 detik berlalu, perlahan tangan Jaka spontan menyamun satu bungkus rokok yang terkapar di atas lantai papan itu. Rokok telah di nyalakan, itu artinya Sobri telah berhasil memancing Jaka untuk menyambung cerita yang sempat tertunda tadi. Tapi kita tunggu sekejap setelah Jaka melakukan tarikan pertama dan menyemburkan kepulan2 asap dari tembakau itu hingga membumbung ke udara.
****

Seperti yang tertulis dari awal, dimasa jayanya Jaka setidaknya memiliki 4 orang Istri yang sah di mata hukum dan agama. Di luar itu penulis tidak bertanggung jawab. Hehehe, dari ke-empat bininya itu, hanya dua istri yang berhasil membuktikan kejantanan Jaka. Istri yang pertama dengan 3 orang anak dan istri yang ke-empat dengan satu orang anak. Setelah semuanya bercerai semua anak2 Jaka di boyong oleh mantan2 istri Jaka. Dan Jaka pun tidak ada upaya untuk mempertahankan salah satu dari ke-4 anak2nya itu untuk tinggal bersamanya. Bagi Jaka hanya membuat dirinya tak bebas bergerak. Untuk biaya administrasi Jaka hanya memberikan nafkah jika salah satu anaknya datang menemuinya untuk minta uang bulanan, itu pun jika mereka datang. Kalo tidak, ya sudah, berarti tak ada jatah raskin untuk ke-empat anaknya yang terbengkalai. Jaka memang kikir dan tak bertangung jawab lagi. Entah apa yang membuatnya berperilaku seperti itu.

”Sudah lama sekali nak, aku tak ingat betul, mungkin 25 tahun lebih aku tak pernah melihat anak2 ku dari istri ku yang pertama. Tapi anak ku dari istri ku yang ke 4 kira-kira 19 tahun yang lalu semenjak Ibunya meminta cerai kepada ku”. keluh Jaka sebari kembali menyeburkan bongkahan2 asap berwarna putih ke kuning2an itu. Kini mata nanarnya berubah sendu seakan menahan sesuatu.

”Lalu apa yang kakek lakukan setelah semuanya hancur?”. tanya sobri semakin berani.

”Memulainya dari awal”. jawab Jaka pasti. ”Berat, begitu berat, sampai hari ini pun rasanya masih mengikat”. Sambungnya lagi.

Setelah semuanya hancur dan tak menyisahkan harta apa pun termasuk istrinya yang kemarin masih bertahan, Jaka akhirnya kembali kerumah keluarga besarnya. Ya, rumah itu satu2nya warisan keluarga yang tak bisa di jual walau 80 persen dana untuk perbaikan rumah yang kemarin sempat reot itu dari kantong pribadi Jaka, itu sewaktu Jaka masih Jaya. Maklum Jaka sebagai anak pertama merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki rumah warisan keluarga itu.

Di rumah itu tak hanya Jaka yang membenamkan dirinya di sana. Masih ada Alm. Ayahnya, Alm. Ibunya, dan kedua soudaranya bersama istri mereka dan berserta anak2nya juga tentunya. Ya, mau bagaimana lagi kedua saudara2nya itu masih belum mampu mengontrak sendiri rumah walau hanya sepetak lahan. Jaka pun harus puas mendiami kamar kecil di belakang dekat pembuangan akhir.

Kalo dulu Jaka hanya ongkang2an kaki di rumah, uang datang sendiri, tapi kali ini Jaka harus menanggalkan egonya itu. Sebab mau tak-mau Jaka harus bekerja menafkahkan dirinya sendiri. Tak mudah memang bertarung dengan diri sendiri. Namun apa yang di katakan Jaka ”berat, bahkan sangat berat”. Memang benar adanya. Tak banyak yang mau menerima Jaka, hanya segelintir orang saja. Aku juga tak tau apa alasan mereka. Dan pilihan Jaka pun jatuh kepada mantan anak buahnya yang dulu pernah bekerja pada Jaka. Bisa di bilang untuk balas budi atas kebaikan Jaka yang dulu begitu royal kepada sang mantan anak buahnya itu. Ya, tak jauh dari profesinya sejak awal, supir!!.

Mantan anak buahnya yang dulu pernah di didiknya selama 5 tahun kini telah berubah menjadi seorang pemborong yang lumayan di segani. Tugas Jaka harus menemani sang majikan ke segala tempat yang dia inginkan. ”Berat, bahkan sangat berat”. kata2 itu masih melekat di kepala Jaka.

”Tapi kek, kata bapak ku setidaknya kakek dulu punya 6 orang istri, yang duanya kemana kek?”. Pertanyaan itu sepertinya merobek luka kecil tepat di hati Jaka.

Mata Jaka kini berubah agak menyeramkan. Tapi Sobri tak gentar. Sobri masih ”anteng” di posisinya dengan prasaan was-was. Sobri kira kakek tua bangka ini akan mengamuk, tapi perkiraannya salah. Perlahan senyum Jaka mulai mengembang, mungkin Jaka langsung terkenang akan sebuah kejadian masa silam. Dan Jaka pun mulai bercerita kembali.
****

Setelah semuanya berjalan normal sebagaimana mestinya. Jaka mulai merindukan sosok wanita lagi di sisinya. Tak hanya untuk menemainya di kasur, tapi juga merawat dirinya. Mencuci pakaiannya, atau pun sekedar mendaratkan ciuman di jidat sebelum dirinya pergi ke medan perang. Jaka rindu saat2 seperti itu. Beberapa kali Jaka sempat memohon maaf kepada mantan2 istrinya untuk berharap kembali padanya. Namun sayang, semuanya telah mengangap Jaka seperti sampah yang tak berguna lagi. Tapi bukan Jaka namanya jika tak bisa menahlukkan satu wanita pun. Tak ada gadis janda pun jadi!!. Wanita penjaga rumah makan langganannya pun, kini di gadang2 kan sebagai calon tunggal pendamping Jaka. Dan Setelah mereka menikah siri, Jaka pun hengkang kaki dari rumah keluarga besarnya itu. Mengontrak sendiri sebuah rumah mungil yang tak jauh dari tempat kerja istrinya yang ke-5 itu.

”Bapak mu itu sok tau!!, maunya hanya mencari2 kesalahan orang lain saja!!. Mana ada aku pernah menikah 6 kali. Yang ada juga 5 kali. Bilang nanti ke bapak mu. ”Ny. Sri” suka menanyakan dia”. Senyum Jaka mengembang seperti adonan Kue bolu.

”Ny. Sri Siapa Kek?”. Tanya Sobri agak penasaran. Info penting buat ibunya. Kata hatinya berbicara.

”Heehehe, tapi janji dulu ini rahasia kita berdua. Jangan di sebar luaskan ya ?”. Jaka sedikit mengultimatum. Pembicaraan mulai menghangat.

”Ayayaiii kapten.!!”. Jawab Sobri dengan tertawa..

Pernikahan dengan istrinya yang ke 5 ini ternyata agak tersendat juga. Seperti umur jagung. Hanya sempat bertahan selama 8 bulan kurang 3 hari. Tak ada lagi kecocokan diantara mereka. Jaka bilang istrinya itu suka mengatur, otoriter, cemburuan, egoi, becek, bau dan sebagainya. Dan istrinya pun juga bilang bahwa Jaka itu orangnya keras kepala, kasar, tak se-romatis waktu pacaran, letoy, nafsu besar tenaga kurang dsb juga. (Perseteruan antar mantan kekasih kita tak bloeh ikut campur). Wkwkwkwk...

”Gagal maning, gagal maning”. keluh Jaka dalam hati.

Hmmm, kali ini Jaka sepertinya frustasi. Untuk beberapa lama dia muak kepada wanita. Tapi lagi2 namanya juga Jaka, tak ”sreek” rasanya jika tak menyentuh seorang wanita pun. Ny. Sri, janda muda kembang desa yang kini memikat hatinya. Segala ilmu dan pengalamannya pun kini harus ia keluarkan untuk menaklukkan Ny. Sri. Jaka tak perduli ada beberapa saingannya yang tak suka dengan cara Jaka termasuk ayahnya Sobri. Dan dengan berbekal pengalamannya di dunia vagina dan payudara, akhirnya Ny. Sri bertekuk lutut di kaki Jaka. Jaka pun tertawa bangga. Hahaha. ”Aku adalah seorang pemenang..!!”

Kisah-kasih Jaka dan Ny.Sri sempat menjadi kontroversi di kalangan para penggila janda ini. Desas-desus kabar berita yang tak jelas begitu cepat menyebar melalui kabar angin. Ada yang bilang Jaka dan Sri telah menikah siri, namun ada juga yang bilang Jaka dan Sri hanya kumpul kebo’ saja. Tak ada yang tau pasti berita yang sebenarnya. Hingga pada suatu saat Ny. Sri menghilang begitu saja dari Desa mereka. Tak pelak kisah itu pun semakin memanas.!!.

”Sri kini telah mengandung anaknya Jaka dan sekarang telah pergi ke kampung lain untuk menutupi aib mereka!!”. Setidaknya itu adalah salah satu gambaran kabar angin yang kini mulai menghangat di Desa itu.

Jaka hanya diam membisu,tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya, layaknya Selebritis Arilpeterporn yang diam membisu ketika di minta konvirmasi kebenaran kabar tersebut. Lhoo!! mulai ngelantur lagi aku, hahahakk.

”Memangnya apa yang sesungguhnya telah terjadi antara kakek dengan Ny. Sri.?”.
Lagi2 Sobri semakin penasaran. Lalu Jaka kembali melanjutkan ceritanya.

Sewaktu mengenal Sri, Jaka sebenarnya tidak seserius seperti mengenal mantan2 isrtinya dulu. Hanya iseng saja atas dorongan nafsunya itu. Plus untuk membuktikan bahwa dia masih unggul diantara para pesaing2nya itu. Beberapa kali Sri meminta Jaka untuk menikahinya. Tapi Jaka pikir tak mungkin. Sri memiliki 3 orang anak yang semuanya telah menginjak bangku sekolah. Dan Jaka tak kan sanggup membiayainya karna dia hanya seorang supir yang gajinya hanya cukup untuk kehidupannya saja. ”Mimpi aja lu!!”. kata Jaka di dalam hati. hhhaakk...

”Jadi selama itu kakek hanya kumpul kebo’ saja dengan Ny.Sri ya kek ?” pertanyaan sekaligus jawaban yang Sobri dapatkan setelah sempat menjadi misteri selama puluhan tahun itu. (Bueh..!!)

”Ya, kurang lebih begitu hehe..”. Sambung Jaka sambil tertawa.

”Truss, alasan Ny.Sri menghilang dari kampung itu apa kek ?”. Sobri merubah posisinya menandakan rasa penasarannya yang tak bisa dibendung.

”Akkhh, itu gampang, tentu saja Ny.Sri malu karena tak pernah mendapatkan kepastian dari ku kapan akan menikahinya, dan Ny. Sri bilang ”Mas Jaka ini maunya hanya mencoblos saja, giliran di tanya kapan mau nikah jawabannya nanti, nanti!! memangnya ”barangku” ini kertas pemilu apa !! asal coblos saja !!”. hahahha, mereka berdua tertawa dipenghujung senja itu.

”Tapi kek, kok rumah ini sepi sekali, kemana yang lainnya ?”. tanya Sobri lagi.

”Hmmm., Semua orang sudah pergi kerumahnya masing-masing, hanya kakek yang tinggal di rumah ini sendiri”. jawab Jaka agak lemas.

”Lha, terus siapa yang masakin kakek setiap harinya ?”.
”Ada, Adikku yang bungsu biasanya nganterin lauk-pauk ke sini setiap harinya”. Jawab jaka pasti.

”Apakah kakek merindukan anak2 kakek ?”. Tanya Sobri dengan agak sedikit ada penekanan.

”Akhh, Sudahlah sebentar lagi magrib tiba, sebaiknya kau pulang kerumah, tak baik jika magrib masih berapa di luar rumah”. Jaka mengalihkan pertanyaan itu.

”Okelah kalo begitu kek, kita sambung besok sore saja ceritanya” Sobri menyerah. Sobri tau ada rasa sakit di dalam hati Jaka hingga dia tak mau lagi meneruskan setiap pertanyaan yang masih banyak melekat di benaknya.

Ya, kakek juga mau masuk, Oya, Jika kau bertemu dengan salah satu anak kakek, bilang pada mereka, Kakek minta maaf, kakek benar2 menyesal telah menelantarkan mereka ketika masih kecil dulu”. Kata Jaka dengan nada sedih.
Sobri hanya menggangguk kan kepala. Sobri tak yakin apa kah kata maaf itu masih bisa di terima oleh anak2 Jaka yang sekarang sudah menginjak dewasa.

Akhirnya, Azan Magrib pun mulai berkumandang ketika sobri baru beberapa langkah menjauh dari rumah tua itu. 
Perasaaan sobri bercampur baur, Lucu, sedih, marah, muak dan sedikit masih penasaran.

”Kenapa ketika dalam usia tua seperti itu dia baru merasa menyesal akan semua perilakunya di masa muda dulu, apakah kejadian seperti ini tak pernah dia pikirkan sebelumnya ??”. ”Akhhhh!! Dasar manusia!!. Ketika merasa sedih baru ingat kepada orang lain, Coba kalo dia lagi senang, lagi berjaya, lupa akan segalanya”. Guman Sobri sambil melangkah menuju rumahnya.



***
Cerita ini benar adanya. Jadi jika ada kesamaan Nama, lokasi atau pun situasi yang sama. Kami mohon maaf. Tak bermaksud untuk mengejek..!!

Ku dedikasikan cerita ini kepada :
-Sahabat ku Rhya..

_Iwansteep_

3 komentar:

  1. Ini kisah nyata?

    Hanya orang2 yang tak pernah mendapatkan kejadian itu yang bisa bicara ”Ya..,aku bisa memaafkannya.., Tuhan saja bisa memaafkan umatnya..” <--- setuju dengan ini!

    BalasHapus
  2. Iya.. inspirasi dari seorang sahabat
    Kisah kami sama.
    Diawal cerita saya ingin pembaca tertawa, dan diakhir saya ingin pembaca befikir serius tentang apa yang saya tulis.
    Tapi sayang hampir semua pembaca saya membenci bagian akhir. padahal kisah ini seprti hisup jaka kikir. mudah bersenang senang ketika tua baru tau rasanya bagaimana ditinggal orang2 yang dia cintai. hehehehe..

    BalasHapus
  3. Saya Percaya kalau ini kisah nyata, Saya benar2 mendapat kan apa saja makna positif yang seharus nya dapat kita jadikan pedoman hidup ,PASTI nya tidak ada diantara kita yang ingin nasib nya seperti kakek JAKA , saya menyampaikan terima kasih kepada penulis BANG IWANSTEEP (Penatap_Langit) yg menyajikan cerita KAKEK JAKA untuk kita sama2 belajar,Ditunggu Update Cerita berkualitas yang seperti ini bang,,sukses selalu

    BalasHapus